This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Sabtu, 24 Desember 2011
Dalam kemasan Rasa
Dalam Kemasan Rasa
Menjerit dikala purnama tampak bersinar cerah. Bertiuapkan angin lembut membuat jeritanku semakin keras. Angin yang semakin kencang itu membuatku tak kuasa mengeraskan suara. Aku berteriak dan terus berteriak. Untuk membuang pikiran yang dikala itu membuatku pusing tujuh keliling, meluapkan ungkapan hati agar terbawa oleh angin. Tiba-tiba angin berubah menjadi angin yang sepoi-sepoi merilekskan badanku tapi tidak dengan jiwaku. “Oh angin malam bawa pergi jiwaku ini” batinku dalam hati. Tapi dengungan yang kudengar membuatku terusik. Kujambak rambutku, kuhatamkan tanganku kedinding lalu kupecahkan cermin dengan ludahku. Butiran air ludah serupa dengan kerikil tajam. Yang menghunus begitu saja seperti anak kecil yang sedang belajar melempar. Tanpa rasa berdosa, tanpa rasa dendam, tanpa rasa dengki anak kecil yang sedang belajar melempar-lempar tersebut menjadi senang ketika lemparan tersebut menjadi suatu hal yang menarik, kemudian “pyaaaaaaaaaar” sebuah kaca pecah.
Aku teringat pada cerita semut hitam yang bertanya pada ibunya. “ ibu, apakah dunia ini hanya seluas lubang hidung manusia ya? saya melihat hidung manusia begitu besar seperti goa yang ditumbuhi pohon jati berwarna hitam. dengan daun-daun yang mengeras. saat aku mengigitnya rasanya tak enak” semut itu bertanya dengan kepolosannya. Tanpa ada rekayasa, hanya mengikuti nafsu keingintahuannya. Sang ibu pun menjawab “ wahai anada dunia itu begitu luas dengan beragam-ragam variasi yang telah menghuni alam semesta ini. Bersama-sama mengisi jagat raya ini. Tidak seperti yang kau bayangkan wahai anada. Apakah kau benar telah mengigit daun jati yang mengeras itu?” sang ibu bertanya balik pada anak semut, dengan rasa heran sang ibu bertanya. Lalu anak semut menjawab “ iya ibunda aku mengigitnya ketika benda tersebut membuatku penasaran, saya kira benda itu enak. berwarna coklat seperti gula jawa. Ternyata saat ku gigit. Aku merasakan pahit yang melumuri lidahku. Lama-lama menjalar keseluruh tubuhku. Saat itu juga aku merasakan hal yang tidak begitu mengenakan. Pahit itu menjalar keseluruh tubuhku hingga aku mengejan. Merasakan rasa yang paling kubenci saat itu.” Pahit yang dirasakan anak semut itu bagai pahit daun mahoni. Bila menyentuh lidah seluruh tubuh merasakan pahit. Gula yang sudah larut di atas air liur pun tak dapat menghilangkan rasa pahit. dari sebiji buah mahoni. Sang ibu pun merasa keheranan, kenapa anak itu bisa menemukan sebuah daun jati yang berwarna hitam. Mungkin dia menganggap cuilan dari gula jawa yang jatuh dilantai kemudian digigit begitu saja. Menganggap bahwa ada rejeki yang diturunkan oleh tuhan dari langit akan tetapi hanya secuil benda pahit. Mungkin itu dibawa oleh setan penghuni pohon jati hitam kemudian terjatuh dilantai.
Dalam keheningan malam sang ibu masih kepikiran tentang secuil benda pahit yang tergigit oleh anaknya. Benda yang menyerupai makanan sehari-harinya. Ketidak pahaman anak semut membuat kepahitan bagi dirinya sendiri. Garam kehidupan baru kemarin, dia cicipi dan manis kehidupan yang akan didapatnya setelah melewati beberapa fase kepahitan di dunia. Mungkin ananda memikirkan bahwa itu adalah kamuflase dari cuilan benda aneh itu. Pikir ibu semut saat melamunkan sebuah kepahitan yang menimpa anaknya.
Berbicara tentang pahit banyak aneka ragam maknanya. Ilmu semantik memaknai tentang kata pahit dengan pengertian sesuatu yang dirasa tidak enak. Orang awam juga memunyai pengertian sendiri tentang pahit yaitu sesuatu yang membuat lidah tak enak. Anak kecil menganggap pahit itu adalah obat yang dijual di apotek. Mungkin kata pahit ini masih bersifat polyinterpretebel, yaitu multi tafsir. Tapi pahit ini memunyai satu kata kunci sang sama dalam memaknainya yaitu TIDAK ENAK.
Pagi hari semut hitam kecil sudah berdiam diri di depan pintu rumahnya. Menikmati sang mentari bagai lampu diskotik dengan penari seksi burung-burung yang bertebangan di angkasa. Dengan music yang menderu akibat pohon-pohon tertiup angin dan celotehan anak manusia yang mulai terdengar. Kehiruk-pirukan menjadi satu seakan-akan membentuk suatu simponi. Semut itu masih teringat apa telah dirasakannya kemarin. “ apa rasa pahit, juga dirasakan oleh penari seksi itu ya? Apakah lampu diskotik itu juga pernah merasakan pahit?” batin anak semut itu dala hati. Saya pernah mendengar cerita bahwa burung dibuat pahit oleh manusia. Ketika burung beristirahat pada sebuah pohon yang rindang. Diam-diam ada pemburu ulung menembakan ketapelnya. Agar burung tersebut jatuh lalu dijadikan hidangan manisnya. Mungkin burung malang tersebut tidak tahu bahwa dirinya sedang diamati oleh pemburu ulung dengan ketapel dan peluru terbuat dari tanah liat. sambil Mengendap-endap pemburu ulung itu mengarahkan ketepelnya kesasaran manisnya yaitu burung. Ketika dibidik burung itu bernyanyi dengan merdunya seperti gita gutawa dengan suara melengkinya. Sampai-sampai seisi hutan terbuai dibuatnya, dengan nyanyian burung tersebut. Semakin merdu suara itu, semakin ditariknya ketapel oleh pemburu tersebut. Suara merdu yang diciptakan oleh sang burung, sempat membuat mabuk pemuburu ulung tersebut, akan tetapi ketapel tetap dibidiknya tepat pada dada burung itu. Kemudian dilepaskan peluru itu. Melesat kencang dengan kecepatan melebihi kecepatan kendaran Valentino Rossi. Mungkin kalau mengikuti Moto GP peluru ketapel itu mendapatkan predikat juara.
Tiba-tiba suara di hutan hening, terdengar suara hantaman yang sangat keras hingga menggema. Brrrrruuuuuk burung itu terjatuh, akhirnya pemburu berhasil mendapatkan burung yang suka bernyanyi menghibur seluruh penduduk hutan dan menjadi penari seksi dikala sang mentari muncul dari ufuk timur. Kepahitan yang dilanda si penari seksi telah dihadirkan oleh sosok manusia. Memikirkan perutnya sendiri akan tetapi tidak memikirkan apa yang terjadi pada yang lainya. Semut kecil itu terus saja berfilsafah. Hingga akhirnya menemukan jawaban atas kepahitan yang dialami mahluk dijagat ini. Termasuk juga manusia.
Manusia menemukan kepahitan yang melebihi rasa pahit dari biji mahoni ketika dadanya tertusuk pelan-pelan dengan benda yang tajamnya melebihi pisau. Yang kecilnya melebihi jarum dan mungkin tak kasat oleh mata. Butiran udara lembut yang bisa menyesakan dada, meremas-remas dalamnya. Hingga menumpahkan seburan air yang berpangkal dikepala. Dan saat ini aku merasakan hal seperti itu..!!!



18.51
Henry Trias Puguh Jatmiko