This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Kamis, 26 Mei 2011
MEWUJUDKAN CALON GURU YANG BERKARAKTER KUAT DAN CERDAS
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Seorang calon guru harus mempunyai karakter yang kuat dan cerdas. Karena guru dituntut untuk menyiapkan peserta didik yang berkualitas serta berkompeten untuk masa depannya. Guru yang berkarakter kuat, bukan hanya mampu mengajar saja akan tetapi mampu mendidik. Bukan hanya mentransfer pengetahuan saja, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai yang diperlukan untuk mengarungi hidupnya. Guru yang dikatakan cerdas bukan hanya memiliki kemampuan yang bersifat intelektual saja tetapi juga memiliki kemampuan secara emosi dan spiritual sehingga guru mampu membuka hati peserta didik untuk belajar dan mampu hidup dengan di tengah-tengah masyarakat.
Sosok guru yang berkarakter kuat dan cerdas di harapan mampu mengemban amanah dalam mendidik peserta didiknya.untuk menjadi guru atau tenaga pendidik yang andal harus memiliki seperangkat kompetensi. Kompetensi utama yang melekat pada tenaga didik adalah nilai-nilai keamanahan, keteladanan, dan mampu melakukan pendekatan pedagogis serta mampu berpikir dan bertindak cerdas. Menjadi guru yang luar biasa juga perlu dikalangan mahasiswa fkip yaitu harus mampu memberikan dan menumbuhkan inspirasi agar peserta didiknya dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
2. Rumusan Masalah
Bagaimana membentuk sebuah karakter yang kuat bagi calon guru
Bagaimana menjadi seorang guru yang cerdas dan luar biasa
3. Tujuan penulisan
Untuk mengetahui cara membentuk sebuah karakter yang kuat bagi calon guru
Untuk mengetahui cara menjadi seorang guru yang cerdas dan luar biasa.
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
a. Membentuk calon guru yang berkarakter kuat.
Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan. (Prof.Dr. H. Hamzah B. Uno, M,pd. 2007: 15). Sedangkan orang jawa mengatakan guru itu seseorang yang digugu lan ditiru. Jadi seorang guru memunyai tujuan yaitu menuntun anak didiknya untuk menggapai cita-cita yang ingin dicapainya dan juga Tujuan umum dari seorang guru kepada anak didiknya yaitu mengarahkan anak didiknya agar mampu melaksanakan tugas tuhan dengan sebaik-baiknya, mampu melaksanakan tugas kemanusiaan, mampu melaksanakan tugas masyarakat dengan sebaik-baiknya, mampu melaksanakan tugas negara dengan sebaik-baiknya, dan mampu melaksanakan tugas pribadi dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan belajar-mengajar khususnya di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi dengan adanya seorang pendidik atau guru, karena guru merupakan jantungnya pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan (M.Furqon Hidayatullah : Xi). Dari kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi Seorang peserta didik dapat menyerap ilmu yang telah diberikan oleh guru, dan juga menerapkan ilmu tersebut pada kehidupan sehari-harinya. Misal seorang anak kelas 1 SD diberikan materi penjumlahan dan pengurangan pada pelajaran matematika. Jika seorang anak tersebut paham dan mengerti apa yang diberikan oleh gurunya, maka ilmu tersebut akan diterapkannya untuk kehidupan sehari-hari seperti menghitung uang jajan yang diberikan oleh ibunya, atau mengitung mainan yang sudah dimilikinya. Dengan demikian segala ilmu yang diberikan oleh seorang guru pasti akan ada manfaatnya bagi kehidupan peserta didik.
Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak (Kamisa 1997: 281) Sedangkan di dalam kamus psikologi dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral , misal kejujuran seseorang biasanya mempunyai kaitan dengan sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: 29). Secara harfiah karakter artinya kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi ( Hornby dan Parnwell, 1972: 49). Jadi dapat dinyatakan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus membedakan antara individu satu dengan yang lainnya. Dengan demikian bahwa karakter itu sebuah kualitas mental atau kekuatan moral, akhlak atau budi pekerti yang merupakan kepribadian setiap individu khususnya yang harus melekat pada pendidik.
Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai-nilai yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Demikian juga seorang pendidik, harus mampu menumbuhkan moral yang baik akhlak yang baik agar selalu melekat pada pendidik pada saat menjalankan tugas menjadi seorang pendidik (M. Furqon Hidayatullah. 2009 : 10). Dengan demikian berarti pendidik yang berkarakter memiliki kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, seperti sifat kejujuran, amanah keteladanan, ataupun sifat-sifat yang lain yang harus melekat pada diri pendidik. Seseorang pendidik yang pandai belum bisa dikatakan berkarakter bila tidak memiliki moral yang baik dan tidak memiliki sikap-sikap seperti kejujuran, amanah dan keteladanan. Aa Gym (2006: 66) mengatakan bahwa karakter itu terdiri dari empat hal. Pertama, ada karakter lemah misal penakut, tidak berani mengambil risiko, pemalas, cepat kalah. Kedua, karakter kuat contohnya tangguh, ulet, memunyai daya juang yang tinggi, atau pantang menyerah. Ketiga, karakter jelek misalnya licik, egois, serakah, sombong, pamer dan sebagainya. Keempat, karakter baik misalmya, jujur, terpercaya rendah hati, dan sebagainya. Jadi untuk membentuk sebuah karakter yang kuat calon guru harus sudah mulai menanamkan sifat seperti tangguh, ulet, memunyai daya juang yang tinggi, jujur, dapat di percaya, rendah hati dan sifat-sifat baik lainnya yang bisa mendukung untuk menjadikan seseorang guru yang berkarakter. Serta juga membuang jauh-jauh pola pikir seperti penakut, merasa kalah, pemalas dan juga memendam dalam-dalam sifat iri, sombong, serakah, suka pamer dan lain sebagainnya.
b. Menjadi Seorang Guru yang Cerdas dan Luar Biasa
Seorang guru dapat dikatakan cerdas apabila memenuhi kriteria sebagai berikut, yaitu: responsif, analitis, inovatif, dan solutif (M.Furqon Hidayatullah. 2009: 198). Maksudnya adalah seorang guru yang memunyai kemampuan cepat mengerti dan memahami, tanggap tajam dalam menganalisis dan mampu mencari alternatif-alternatif solusi dan mampu memecahkan masalah. Jadi seorang guru yang cerdas jika dihadapkan suatu permasalahan maka guru tersebut mampu merespon dengan cepat yaitu mampu memahami masalah apa yang sedang dihadapinya, lalu memikirkan alternatif-alternatif solusi apa untuk mencari jalan keluar tersebut. sehingga dapat menemukan jalan keluar atas permasalahan itu. Kriteria-kriteria seperti itulah yang harus dimiliki oleh mahasiswa khususnya mahasiswa FKIP karena dengan kriteria-kriteria seperti itu seorang calon guru memunyai bekal ketika berhadapan langsung dengan peserta didiknya. Misal ketika mahasiswa PPL bertemu dengan peserta didiknya yang mendapatkan nilai ulangan lebih rendah dari teman sekelasnya. maka Seorang calon guru harus bisa menganalisis, kenapa anak tersebut mendapatkan nilai rendah dibandingkan nilai teman-teman sekelasnya? faktor apa yang menyebabkan si anak seperti itu? Dalam kasus tersebut sikap responsif, analitis, inovatif, dan solutif yang menjadi dasar dalam memecahkan permasalah seperti itu dan juga seorang calon guru memandang suatu permasalan secara holistik artinya bahwa seorang calon guru tidak boleh memandang permasalahan seperti itu dari satu sisi sudut pandang saja melainkan dari berbagai sudut pandang. Mungkin anak tersebut mendapatkan nilai rendah karena kurangnya belajar sebab kalau malam kerja sehingga hanya memunyai jam belajar saat di sekolah saja, atau mungkin kita melihat dari sudut pandang keluarga yaitu si memunyai keluarga yang broken home jadi anak kurang fokus dalam memerhatiakan pelajaran karena memikirkan keluarganya yang seperti itu. jadi, pada saat ulangan si anak mendapatkan nilai rendah. Jangan sampai seorang calon guru berpikiran bahwa anak tersebut pemalas, bodoh, tolol, ediot. Seorang guru harus mampu menganalisis permasalahan apa yang sedang dihadapi anak tersebut, setelah itu mencari solusi dan jalan keluar untuk membantu memecahkan permasalahan anak tersebut. jadi seorang guru yang cerdas mempunyai kriteria berpikir seperti responsif, analitis, inovatif, solutif dan juga holistik dalam menghadapi suatu permasalahan.
Guru yang luar biasa adalah guru yang mampu memberikan dan menumbuhkan inspirasi agar peserta didik dapat berkembang potensinya secara optimal ( M. Furqon Hidayatullah. 2009: 235). Hal ini berkaitan dengan seorang guru yang lihai dalam membalik-balikan lidah, pandai dalam mengolah kata sehingga setiap kata yang keluar dari mulut seorang guru menjadi inspirasi pada diri anak didik. Inspirasi itu bisa muncul pada diri anak didik ketika kita menceritakan suatu pengalaman atau berita yang di dalamnya ada nilai keteladanan yang bisa mengetuk hati dan pikiran anak didik.
Seorang pendidik yang luar biasa harus memiliki intergritas, yaitu adanya kesamaan antara ucapan dan tindakan atau satunya kata atau tindakan. inti dari integritas adalah terletak pada kualitas istiqomahnya. Sebagai pengejawantahan istiqomah adalah berupa komitmen dan konsistensi terhadap profesi yang diembannya. ( M. Furqon Hidayatullah. 2009: 106 ) jadi jika teori-teori yang kita berikan kepada anak didik dan cerita-cerita tauladan untuk memotivasi anak didik tidak sesuai dengan apa biasa kita lakukan sehari-harinya itu belum dikatakan sebagai guru yang luar biasanya. Contohnya kita mengatakan kepada anak didik bahwa merokok itu tidak baik dan mengganggu kesehatan, tetapi pada kenyataannya justru seorang pendidik tersebut adalah perokok dan belum bisa menghentikan kebiasaan buruk tersebut. Seperti itu contoh seorang pendidik yang belum bisa dikatakan guru yang luar biasa, hanya menasihati saja akan tetapi dirinya sendiri belum bisa menjalakannya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Guru yang berkarakter kuat itu adalah guru yang mampu menanamkan sifat-sifat seperti tangguh, ulet, memunyai daya juang yang tinggi, jujur, dapat di percaya, rendah hati serta membuang jauh-jauh pola pikir seperti penakut, merasa kalah, pemalas dan juga memendam dalam-dalam sifat iri, sombong, serakah, suka pamer dan lain sebagainnya. Seperti itulah dasar yang harus dimiliki seorang guru yang berkarakter.
Seorang guru yang cerdas mempunyai kriteria berpikir seperti responsif, analitis, inovatif, solutif dan juga holistik dalam menghadapi suatu permasalahan.
Seorang pendidik yang luar biasa harus memiliki integritas, yaitu adanya kesamaan antara ucapan dan tindakan atau satunya kata atau tindakan. inti dari integritas adalah terletak pada kualitas istiqomahnya.
B. Saran
Sebaiknya mahasiswa FKIP menyadari bahwa kelak dia akan menjadi penutan bagi masyarakat, oleh karena itu mahasiswa perlu menanamkan dalam dirinya sikap yang menunjukan seperti tangguh, ulet, memunyai daya juang yang tinggi, jujur, dapat di percaya, rendah hati serta seorang mahasiswa FKIP berpikir secara responsif, analitis, inovatif, solutif, holistik serta berintegritas
DAFTAR PUSTAKA
Hidayatullah, M. Furqon. 2009. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.
Mudyaharjo, Redjo. 2002. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Raja grafindo Persada.
Muslich, masnur. 2007. Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik. Malang: Bumi Aksara.
Sagala, Ayaiful. 2009. Kemampuan Profosionalitas Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta.
Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Uno, Hamzah B. 2007. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Wibowo, Agus. 2007. Malpraktik pendidikan. Yogyakarta: Genta Press.



22.59
Henry Trias Puguh Jatmiko